Akhirnya Saldo Tabungan Haji itu Cukup

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ »
Dari ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi bahwa ia berkata, “Aku mendengar Umar bin Khattab RA berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju”

Niat dan doa
Niat dan doa

Bagi kaum muslim belum sempurna rasanya jika belum menjalankan rukun Islam yang kelima, hampir semua kaum muslim pasti berkeinginan untuk menunaikan ibadah yang hanya bisa dilakukan setahun sekali ini. Sayangnya tidak semua umat muslim yang punya kesempatan untuk dapat segera menunaikan Ibadah Haji, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, selain juga karena minimnya kuota haji. Salah satu persyaratan menunaikan ibadah Haji adalah “Mampu”.

Tidak semua umat muslim dinyatakan “Mampu”, mengingat Ongkos Naik Haji (ONH) nyatanya tidak murah, paling tidak untuk mendapatkan no kuota Haji kita harus menyiapkan dana sebesar Rp. 25 Juta per orang. Itu pun kita masih harus mengantri cukup lama dalam menunggu waktu keberangkatan.

Rp. 25 juta bagi kebanyakan Muslim di Indonesia tidaklah sedikit, apalagi untuk naik Haji ini kita biasanya berangkat sepasang Suami Istri. Jadi paling tidak kita harus menyiapkan uang sebesar Rp. 50 Juta.

Lanjutkan membaca Akhirnya Saldo Tabungan Haji itu Cukup

Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi

ImageSeperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musiibah itu.

Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istri almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersenggal – senggal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dahsyatnya sakratul maut, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong”. “Bagaimana bunyinya ?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikan lebih jauh lagi… andaikata yang masih baru… andaikata semuanya…”. Hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.  Lanjutkan membaca Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi

Malaikat Menunaikan Haji Untukmu

Seorang Tabi in yang bernama Abdullah bin Mubarak berkata :

Aku adalah seorang yang sangat suka menunaikan ibadah haji. Bahkan setiap tahun aku selalu berhaji. Pernah pada suatu waktu, seperti biasanya setiap aku akan menunaikan ibadah haji, aku mempersiapkan segalanya untuk keperluan keberangkatanku. Aku pergi ke pasar unta dengan membawa 500 dinar untuk membeli seekor unta untuk perjalanan hajiku. Ternyata uangku tidak cukup untuk membeli seekor unta. maka aku pulang kembali ke rumah. Namun di tengah jalan, aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tempat sampah. Dia mengamnbil bangkai seekor ayam dan membersihkan bulu-bulunya, tanpa menyadari kehadiran di dekatnya.

Aku menghampirinya dan berkata kepadanya, “Mengapa engkau melakukan ini, wahai hamba Allah?” Wanita itu menjawab, “Tinggalkan aku, dan urus saja urusanmu!”

Aku berkata, “Demi Allah, beritahukan kepadaku keadaanmu sebenarnya!” Wanita itu berkata, “Baiklah, akan kukatakan keadaanku yang sebenarnya karena engkau telah memaksaku dengan menyebut Nama Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya aku adalah wanita Alawiyah (Keturunan Nabi SAW), Aku mempunyai tiga orang anak kecil dan suamiku telah meninggal dunia. Sudah tiga hari aku belum makan apa apa. Aku sudah mencari kemana mana demi 3 orang anakku, namun aku tidak menemukannya selain bangkai ayam ini. Maka aku akan memasak bangkai ini karena ia halal untuk aku dan anak – anakku (daruruat)”.

Lanjutkan membaca Malaikat Menunaikan Haji Untukmu

Lebaran Anak Yatim (10 Muharram)

Hari ini tepat tanggal 10 Muharram 1433 H, atau yang biasa disebut “Hari Asyuro”. Banyak riwayat yang menyatakan keutamaan hari Asyura ini. Hari Asyura sendiri berarti hari ke 10 dalam bahasa arab. Salah satu keutamaan pada hari ini adalah berpuasa juga bersedekah baik kepada anak yatim maupun kaum dhuafa. Di Hari Asyura ini juga banyak peristiwa yang terjadi didalam dunia islam, antara lain Peristiwa perang Karbala yang menewaskan Husain Bin Ali, yang tak lain merupakan cucu Nabi.

Pada hari ini juga disebutkan menjadi  hari “lebaran anak yatim”. Sebetulnya istilah lebaran anak yatim hanya merupakan kiasan, bukan hari yang memang dikhususkan untuk dirayakan seperti halnya Iedul Fitri mauupun Iedul Adha. Mengapa dikatakan bahwa tgl 10 Muharram adalah Lebaran Anak Yatim, dasar hadisnya sbb : Lanjutkan membaca Lebaran Anak Yatim (10 Muharram)