Pembatasan BBM Subsidi, Siapa Yang Untung ?


Hati-hati hiden agenda dibalik pembatasan BBM subsidi !!! Pertanyaannya adalah siapa yang paling diuntungkan dari pembatasan subsidi ini? Apalagi produksi Pertamax Pertamina belum dapat mencukupi untuk memenuhi konsumsi BBM pengganti Premium sampai dengan 2017. Bayangkan jika itu terjadi maka ada kekosongan suplly BBM sekelas Pertamax. Saya tidak tahu persis jumlahnya berapa konsumsi negeri ini khususnya kendaraan roda empat pribadi yang harus beralih dari Premium ke BBM sekelas Pertamax.

Ditilik dari kepentingan ini, pastilah anda sudah bisa menebak bahwa ada pemain besar yang lantas langsung akan menangkap peluang. Yaitu siapa lagi kalau bukan produsen BBM asing. Bayangkan investasi mereka di Indonesia, paling tidak sudah triliunan rupiah menggolontor untuk membangun bisnis SPBU mereka di Indonesia. Sekarang mari kita lihat faktanya di lapangan, hanya segelintir saja kendaraan yang mau mampir ke SPBU mereka. Bahkan SPBU asing dekat saya tinggal, sudah tutup karena sedikitnya pembeli, layu sebelum berkembang.

Saya rasa pemerintah harusnya jauh lebih cerdas untuk mengatasi permasalahan pembengkakan subsidi ini. Solusi migrasi dari Premium ke BBG pun tidak mungkin secepat itu menyelesaikan masalah. Ini beda dengan penggantian konsumsi minyak tanah untuk kompor. Biaya pembelian tabung gas dan kompor tidak terlalu mahal bagi masyrakat kita, apalagi dengan cara dibagikan secara gratis. Sedangkan Migrasi Premium ke BBG, membutuhkan investasi yang tidak sedikit, kita harus membeli Converter kit dan  tabung gas yang harganya mencapai belasan juta rupiah. Belum lagi ketersediaan SPBU BBG yang sangat jarang. Eksesnya apa, ini dijadikan bahan proyek saja bagi sgelintir orang.

Menurut saya, pembatasan ini merupakan “KEKELIRIUAN BESAR” Pemerintah. Dampak yang lain adalah penyalahgunaan BBM subsidi, yang seharusnya digunakan untuk Kendaraan Umum dan Motor, malah diperjualbelikan diluar. Hal ini mungkin saja mengingat disparitas harga sangat tinggi. Ujung-ujungnya Angkot, Taxi dan kendaraan umum lainnya tidak lagi mengangkut penumpang malah berdagang BBM. Dampaknya lagi transportasi terganggu, mobilitas masyarakat tidak lagi terakomodir.

Lantas solusinya apa ?

Menurut hemat saya, adalah

1. Bedakan BBM subsidi untuk Kend. umum dengan BBM subsidi Kend. Pribadi. Naikan saja Premium di level harga Rp.5.500 sd. 6.500, (tergantung evaluasi)

2. Utk kend. umum dan motor tetap seharga Rp. 4.500

3. Bedakan SPBU utk Kend. Umum , kalau perlu SPBU ini ditunjuk hanya untuk melayani kend. Umum saja tidak menjual produk lain (Pertamax, Pertamax Plus). dan jumlahnya pun sangat dibatasi.

Dengan solusi ini rasanya beberapa masalah bisa diatasi :

1. Pembengkakkan subsidi BBM bisa dikurangi

2. Harga BBM bagi kend. umum tidak naik dan ujungnya adalah tarif angkutan umum juga tidak naik

3. Penyalahgunaan pembelian BBM juga bisa dihindari, karena disparitas harga tidak terlalu tinggi dan pembelian BBM kend. umum pun dilokalisir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s