Heru Atna: Revolusi Mawar Melati , Sebuah Retrospeksi dan Revitalisasi Pemaknaan Baru Arti Kemerdekaan


Ini sebuah retrospeksi dan sekaligus revitalisasi pemaknaan baru arti Kemerdekaan RI, kata Heru Atna saat meluncurkan ‘fotoklip’ musiknya yang meracik tembang sajak dan lukisan bertajuk Revolusi Mawar Melati (REM). Lewat musik dan vokal yang menggelegak progresif patriotik itu, Heru Atna juga memamerkan beberapa lukisan karyanya yang secara umum merepresentasikan kompleksitas krisis mulai dari ihwal kematian reformasi, tekanan nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperalisme),negara gagal,pembusukan birokrasi-politik dan hukum. Mengusung konteks yang sangat relevan akan kahanan kontemporer Indonesia, musisi-penyair-pelukis yang juga mantan wartawan ini melantunkan spirit revolusi kebudayaan.

“Murni dari hati nurani dengan cinta. Semacam aksi garis lembut manis, tidak dengan darah, amuk atau api.Tidak kekerasan!”Kata Heru Atna. Ia juga menuturkan tidak berhenti hanya pada peluncurkan REM yang saat ini bisa diunduh di YouTube (klik:revolusi mawar melati), namun kiprah aksinya dikatan akan terus sambung arus menggugah kesadaran dan kepedulian kolektif masyarakat akan nasib negerinya. Ke depan, misalnya, bersama lembaga pers mahasiswa UII (HIMMAH) berencana menggelar orasi kebudayaan yang dipadukan dengan pentas musikalisasi puisi (Jamz Session Art) dan pemutaran short movie dengan visi ihwal kebangsaan dan kepedulian akan kondisi bangsa; menggugat kemerdekaan yang tanpa karakter dan stagnasi tapi penuh manipulasi di panggung politik, sosial dan budaya.

“Format acara itu pun bisa diracik dalam bentuk talkshow atau dialog inter actif di TV maupun radio”,kata Mohamad Jepry, Pemimpin Umum majalah Himmah UII. Untuk itu, menurut Jepry, nama-nama yang siap memberikan orasi kebudayaan diantaranya, budayawan Herien Priyono, Ahmadun Yosi Herfanda (Sastrawan), Prof. Zaini Dahlan MA (mantan rektor UII 2 periode), Bambang JP (sineas) dan tokoh-tokoh lain yang saat ini masih dalam konfirmasi.

Jauh sebelumnya, tahun 2000, Heru Atna bersama sekelompok mahasiswa Jogja-Jakarta pernah melancarkan suatu aksi ‘garis lembut manis’ anti kekerasan dengan nama komunitas Sawo. Ia bersama mahasiswa,beberapa diantaranya dari Institut Kesenian Jakarta, ISI-JogJa, STIEKERS-Jogja dan lain-lain juga membentuk kelompok musik yang khusus meracik tembang sajak untuk kampanye anti kekerasan. Selain mementaskan di panggung-panggung kesenian juga tampil live dengan Talkshownya di TVRI dan radio. Kini, produksi video klip REM-nya nyaris digarapnya secara ‘serba solo’ mulai dari, aransemen, lagu, puisi, musik, lukisan, fotografi,bahkan ide fotoklip musiknya ia sendiri yang meraciknya. Namun untuk kiprah berkesinambungan ke depannya ia mulai memanggil teman-teman lamanya di komunitas Sawo. Termasuk penyair Ahmadun Yosi Herfanda dan Bambang JP yang mensuplai karya puisinya untuk di garap Heru Atna, kembali dipanggilnya.

Latar Belakang                               

Proklamasi 17 Agustus pada hakekatnya adalah sebuah puncak perubahan radikal(revolusioner) di tingkat politik dari bangsa Indonesia. Bagaimana bentuk perubahan radikalnya di tingkat sosiokultural yang notabene tak kalah strategis adalah sebuah jeda panjang. Apa yang disiapkan oleh BPUPKI adalah konsep-konsep politik. Tetapi blank besar yang tak kunjung disiapkan hingga kini adalah konsep tranformasi sosio-kulturalnya. Paket reformasi kemarin –yang nihil konsep strategi sosiokultural—nampaknya mengulang kesalahan yang sama. Hasilnya adalah sebuah tragedi besar, kebebasan dan demokrasi politik itu malah melahirkan paradox yang lebih ekstrim. Mati satu Soeharto di Jakarta, lahir ribuan “Soeharto kecil” di seluruh pelosok negeri yang di back up secara masif oleh kekuatan partai politik, hukum dan birokrasi dalam format korupsi berjemaah seiring terciptanya iklim “saling menyandera” di kalangan pilar demokrasi yang seharusnya menjadi kekuatan utama perubahan. Parodi ini membuat momentum reformasi nyaris terhenti 100 persen.

Masyarakat akan segera tahu saat dicontohkan adanya paradox “kegagalan” dari “keberhasilan” pembangunan Orde Baru yang dipuja-puji di dunia tetapi ternyata “keropos” di dalamnya karena tidak memiliki instrument pemerataan yang menjamin terjadinya “efek tetesan ke bawah” sebagaimana diajarkan Rostow, sehingga keberhasilan pembangunan orde baru adalah keberhasilan yang tidak berkeadilan sosial dan tragisnya hal itu masih diteruskan oleh pemerintahan hasil reformasi sekarang.

Seperti halnya amanah proklamasi 17 agustus 1945, jangan lagi hanya dipadati dengan jargon-jargon politik keropos dan kosong yang sepi dari “rekayasa instrumentatif” yang bisa menjadi terujudnya cita-cita 1945 tersebut. Berapa triulun rupiah dulu dihabiskan oleh orde baru untuk “mempancasilakan” bangsa Indonesia dengan P-4 yang berakhir dengan gunung kebohongan dan pembohongan yang hasilnya “meledak” di era reformasi ini ketika semua melakukan kebohongan berjemaah dari Hakim, jaksa, polisi hingga para guru? Sungguh sebuah tragedi luar biasa yang dianggap enteng oleh kita semua.

 Sebagai  sebuah retrospeksi dan revitalisasi pemaknaan baru arti kemerdekaan, layak simak juga selengkapnya tembang sajak bertajuk “Revolusi Mawar Melati” karya Heru Atna, sebagai berikut:

 

Revolusi mesti dimulai

Cinta dan kemerdekaan sudah putus arus

Melulu salah urus

Selebihnya tanah air tumpah limbah

Dan mati angin

 

Revolusi mesti dimulai

Bongkar sampai akar-akar pembusukan birokrasi

Mesum dan gelap hukum

Politik membadak buta gila kursi

Dan harus korupsi

 

O, garuda patah sayap kemana hinggap

Reformasi melayang gamang, tinggal kemapanan

Tak berjiwa, tak habis krisis

 

Revolusi tanpa kekerasan

Dari benahi diri, dengan arus baru

Nilai dan arti cinta

Juga atas kemerdekaan

Pendirian mesti kita punya

 

Revolusi mawar melati

Tumbuh mekar di hati, aura merah putih

Berani serta murni

Tumbangkan musuh bersama

Kekuasaan berwatak penjajah 

 

Kenapa  diam diri saja dan tertindas

Jangan biarkan negeri ini di rangking atas

Berjuluk negeri pesta pencuri

 

Temanggung 2011

 

Biodata Singkat Heru Atna

Lahir 17 Februari 1964, selepas SMA kuliah di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI-Yogyakarta). Rekaman yang di sponsori Republika: Jazz n poem bertajuk  Tuhan Maha Indah. Bersama komunitas Sawo: jazz n poem “Sejiwa Indonesia”. Selain melukis, Heru Atna juga menulis puisi. Puisi-puisinya dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, Minggu Pagi, Anita Cemerlang, Gadis, Madani, Republika UII News dan lain-lain. Ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Sarinah, Tajuk, Yogya Post, Netral, Madani, UII News dan lain-lain. Kini ia masih berkiprah di dunia seni musik,menulis, melukis, sambil menekuni tanaman hias di Galeri Tumbuh, Temanggung.

 

Contac Person: 0293-492209, 081227563854

Alamat              : Galeri Tumbuh, Banyuurip Barat 118-Temanggung

 


One thought on “Heru Atna: Revolusi Mawar Melati , Sebuah Retrospeksi dan Revitalisasi Pemaknaan Baru Arti Kemerdekaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s