Ketika ku Melihat RumahMU


Perlahan mobil yang kutumpangi menjauh dari kota Madinah, kota Rossulullah SAW. Lirih kuucapkan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sambil berjanji dalam hati “aku akan kembali”, walau entah kapan. Hari ini memang hari terakhir perjalanan ibadah Ziarah sekaligus mengunjungi kota Madinah. Ada rasa yang tak bisa kuungkapkan ketika mobil ini semakin menjauh dari Masjid Nabawi.

Dengan menggunakan pakaian Ihrom, aku bersama rombongan menuju masjid Bier Ali. Di Masjid itulah tempat kami miqat, atau memulai niat untuk  beribadah umroh. Sejak  ini aturan dan larangan bagi orang yang berihram mulai berlaku. Beberapa larangan bagi orang berihram :

  1. menikahkan dan dinikahkan
  2. melakukan hubungan suami istri
  3. bercumbu atau melakukan hal-hal yang mengundang birahi
  4. onani
  5. memotong rambut atau melakukan apapun yang mengakibatkan jatuhnya rambut.
  6. Memotong kuku
  7. Menyembelih binatang.
  8. Berburu binatang
  9. Memotong pohon
  10. Bertengkar secara fisik maupun secara perkataan.
  11. Membuka aurat
  12. Memakai wangi-wangian
  13. Menutup kepala bagi laki-laki, menutup muka dan telapak tangan bagi wanita.
  14. Memakai pakaian yang berjahit dan sepatu bagi laki-laki.

“Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka”.

Kalimat itu berulang-ulang diucapkan kami, menjawab panggilan Sang Khalik yang telah mengundang kami untuk datang ke RumahNya. Ustadz Ilham sang pemimpin rombongan memimpin kalimat Talbiyah ini, kami mengikuti dengan semangat. Namun tetap saja ketegangan tidak dapat disembunyikan dari wajah  para jemaah, apalagi bagi jemaah yang baru sekali ini berangkat ibadah umroh / haji.  Ketegangan ini wajar saja dirasakan mengingat untuk pertama kalinya kami akan melihat langsung rumah Allah SWT. Kabah. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu sebelum keberangakatan ke tanah suci, ada rasa yang luar biasa tak terbendung ketika melihat wujud kabah di layar tv .

Perjalanan dari Madinah ke Mekah memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan, kami tempuh seluruh perjalanan lewat jalan bebas hambatan. Inilah hebatnya negara Saudi Arabia, memberikan fasilitas kepada warga dengan membangun jaringan jalan tol sebagai penghubung ke kota-kota besar tanpa dipungut bayaran sesepeserpun.   Hampir semua pemandangan yang kita lihat hanyalah hamparan padang pasir yang gersang. Sayup-sayup masih terdengar beberapa jemaah membaca kalimat Talbiyah, sebahagian lagi berdzikir dalam hati dan sebagian lainnya tak kuasa untuk tidak pulas tertidur. Hampir tidak ada yang mengobrol maupun bersenda gurau, karena rata-rata jemaah takut melanggar larangan-larangan.  Aku sendiri asyik masyuk mendengarkan shalawat dari ponsel, tentunya dengan earphone agar tidak mengganggu jemaah lain.

Hari menjelang Maghrib, kami sudah semakin dekat dengan kota Mekah, jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan – kendaraan. Ustz Ilham sesekali menerangkan tempat-tempat bersejarah yang kami lewati, dan menerangkan sejarah Rossulullah di kota Mekah. Kami sepakat menjama  sholat maghrib dan akan ditunaikan di Masjidil Haram. Suasana kembali khidmat, kalimat talbiyah kembali dilafalkan. Samar-samar Masjidil Haram tampak dari kejauahan, kemegahannya dan wibawa sang Mesjid sudah tampak walaupun tidak semua wujud mesjid nampak Jelas.

Kendaraan memasuki kota Mekah, suasana kota Mekah yang ramai dan padat tampak jelas dan kemacetan juga dirasakan, layaknya lalu lintas di Jakarta. Berbeda dengan Kota Madinah yang tampak begitu tertata rapih dan modern, kota Mekah terlihat sangat padat dan sibuk dengan segala aktifitas, hal ini disebabkan Jemaah Muslim lebih banyak datang ke Kota ini dan pembangunan gedung dan sarana lainnya sedang marak-maraknya dibangun.

Akhirnya kami tiba di hotel tempat kami akan menginap selama 4 hari di kota Mekah, “Hotel Rehab Firdaus” namanya. Lokasi hotel tidak jauh dari Masjidil Haram, kira2 200 m dari pintu Masjid terdekat. Sesuai dengan rencana kami masuk dlu ke hotel untuk check in serta beristirahat dan makan malam. Kami sepakat untuk memulai ibadah umrah malam hari pkl 8 waktu Mekah.  Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, tiba saatnya kita menuju Baitullah.

Dalam hati aku berucap,” Ya Allah akhirnya aku sampai juga di kota Mekah ini untuk bertatapan langsung dengan RumahMu”. Di bimbing oleh Ustz. Ilham kami memasuki kawasan Masjidil Haram melalui pintu 1, yaitu pintu King Abdul Aziz, salah satu pintu Utama dari beberapa pintu di Masjidil Haram. Sebelum kami menuju Baitullah, terlebih dahulu kami menunaikan sholat maghrib dan Isya yang di Jama’ dan beberapa sholat sunah serta doa. Rampung dengan sholat kita langsung menuju Kabah untuk memulai  ibadah Tawaf.

Perlahan tapi pasti kami mendekati bangunan Kaba, hitamnya Kiswaf tampak dari kejauhan, semakin dekat semakin jelas. Sampai kami di pinggir tangga menuju Kabah, doa melihat kabah pun kupanjatkan

Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan,

kehormatan dan kehebatan pada Baitullah ini dan

tambahkanlah pada orang-orang yang memuliakannya

dan mengagungkannya dari orang-orang yang berhaji dan umroh

kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan.

Akhirnya aku pun bersujud tepat dihadapan Kabah, RumahMU yang agung. Rumah yang dimana seluruh umat muslim menghadap pada saat sholat menjadi tempat kiblat bagi umatMU. Rumah yang didirikan oleh keringat Nabi Ibrahim A.S.. Rumah yang diselamatkan oleh sang Nabi besar Muhammad SAW.  Puji Syukur, akhirnya aku bisa menatap langsung Kabah.

Mudah-mudah ini menjadi inspirasi dan bermanfaat, mudah-mudahan tidak menjadikan ria bagi penulis, amiin

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s