Kun Fa Ya Kun


“Ayah boleh ga Bunda Umroh, gantiin mamah krn berhalangan” tiba-tiba sms itu muncul di hpku, entah kenapa ada berbagai rasa campur baur ketika membaca sms itu. Syukur tentunya kupanjatkan kepadaMu Ya Allah, karena memberikan kesempatan kepada istriku untuk berangkat ke rumahMu, bahagia namun jg sedih karena kami tak bisa berangkat bersama ke Baitullah. Untuk sementara aku blum bisa kasih jawaban, hanya repply “kamu yakin?” itu saja yang aku bisa komentar atas pertanyaan Sari istriku. Untuk sementara hatiku tak tentu arahnya. Terenyuh rasanya ketika mengingat sang istri akan berangkat ke Rumah Sang Khalik tanpa disertai diriku.

Hanya Allah jualah yang bisa mengombang ambingkan hati mahlukNya, disinilah hatiku diuji luarbiasa, mencari keikhlasan diri atas kehendakNya. Di satu sisi hati ini bersyukur dengan kondisi ini, sementara disisi lain ego manusia muncul bisikan seian, terpikir “kenapa istriku mendahuluiku sedangkan kita niat untuk bersama – sama pergi Umroh / Haji, dan banyak pikiran yang mengandung ego bermunculan di kepala. Hati ini terasa tak tenang dengan segala bisikan itu, aku masih blm bisa memberikan izin utk. Aku hanya sms “ayah ingin kita berangkat berdua, tapi kamu tahulah kondisi keuangan kita, entah kapan kita bisa wujudkan ini” ketika dia tanyakan izinku lagi. Saat itu Istri & anak-anak sedang ada di luar kota, sehingga komunikasi hanya lewat sms / telp.

Kondisi keuangan kami memang ngga berlebihan walaupun tak terlalu kurang juga. aku sebagai karyawan biasa,  rasanya belum mampu untuk membiayai kami berdua berangkat umroh maupun haji. Apalagi bulan-bulan ini adalah waktunya anak-anak masuk sekolah, sehingga hampir semua tabungan masuk ke pos tersebut. Menjalankan ibadah ke tanah suci merupakan barang mewah buat kami dan bagiku belum jadi prioritas utama, walaupun keinginan itu tetap ada.

Entah kenapa ada rasa tak terima dengan kondisi ini, tapi apalah arti manusia jika dibandingkan dengan kuasaNya. Mana mungkin aku menghalangi niat istriku yang akan berangkat ke tanah suci kalau itu KehendakNya. Karena proses keberangkatannyapun sama sekali tak diduga, tak ada rencana kami dalam waktu dekat untuk umroh. Sebelumnya memang Ibu mertua dan adik ipar berencana untuk berangkat umroh, namun ternyata salah satu dari mereka harus tetap berada di Indonesia untuk urusan bisnisnya. Jadilah tawaran itu diberikan kepada istriku, jelaslah tawaran ini tak mungkin ditampik. Siapa sih yang tidak ingin pergi ke Baitullah dan mengerjakan ibadah umroh apalagi dengan biaya yang sudah ditanggung sepenuhnya.

Tinggalah aku terpekur dalam keheningan malam, terombang – ambing hatiku antara melepasnya atau menahannya utuk pergi. Semalaman aku mencari arti dari kondisi ini, mencari jawaban atas kegundahan hati, mencari hikmah atas kehendakNYa. Matapun tak kunjung terpejam ketika larut telah tiba, tak kutemukan jawaban atas gulana hati ini.

Pagi pun tiba, kuputuskan untuk curhat dengan adikku.
Aku : “nenk” kupanggil dia lewat YM
Adik : “yo” jawaban dari dia
Aku : “sibuk ?”
Adik : “ngga terlalu”
Aku : “mo curhat”
Adik : “hah”
“tumben2nan aa curhat” aku memang jarang curhat termasuk dgn adikku
Aku : “hehehe”
Adik : “knapa”
Aku : “Sari mo umroh”
Adik : “bagus dong”
Aku : “gantiin Nyaksi ” (nyaksi panggilan nenek utk org aceh)
Adik : “ic”
Aku : “dia minta izin aa”
“aa bimbang”
“di satu sisi aa bersyukur dia dapat kesempatan brgkt umroh”
“di sisi lain, mungkin ego aa berkata lain”

Adik : “ic”
“kenapa Ka Sari yg brangkat bukan abusi (abusi =panggilan kakek utk orang aceh) “
Aku : “ya mungkin udah dikasih jalannya ke dia”
Adik : “trus keberatannya aa dimana”
Aku : “ya aa pengin klo pun brangkat yah brkgt berdua”
Adik : “izinin aja a.”
Aku : “gitu ya”
Adik : “manusia boleh berencana Allah yang menentukan”
Cobalah aa lihat hati aa yg paling dalam
bersihkan hati dari ego2 semu
Aku : “aa mo izinin tp jdnya ganjel”
Adik : ganjel gimana
Aku : ya ada yg ganjel aja
Adik : ya mgkn coba diomongin sm Ka sari
aku : ok deh aa coba pikirin dlu, thanks

Hari itu hari jumat saatnya sholat jumat, blm jg kuputuskan, tapi hati condong utk mengijinkannya. Mustahil manusia menghalang-halangi ketentuanNya jika Allah telah berkehendak, “Kun Fa Ya kun” itu dalam benakku. Masalah urusan ego harus aku singkirkan jauh-jauh, & masalah hati yang ganjel akan aku benahi sedikit-sedikit. Tak ada rasanya alasan aku untuk menghalanginya, bagaimana mungkin aku menghalangi istriku untuk beribadah. Walaupun tentu saja bakal meninggalkan anak dan suami untuk beberpa hari dan pastinya akan membuat repot aku untuk mengurus keperluan rumah tangga dan anak-anak, sementara akupun harus bekerja seharian.
Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan sms “Kalau memang ini sudah jalannya kamu untuk umroh, ayh ga mungkin menghalangi” sms dikirim.

agak lama istriku membalas “thanks ayah, doakan agar semua lancar, luv u”. Terasa ganjalan muncul dari dada sebelah kiriku, ada rasa yg mengganjal di hati ini, namun ku tak tahu apakah rasa itu.
Konflik di bathinku semakin menggila, ingin rasanya membatalkan izinku, namun kembali lagi teringat bahwa ini sudah ketentuanNYa. Juga terbesit dihatiku agar istrik membatalkan niatnya untuk berangkat, aku akan pengaruhi dia untuk itu dengan cara yang halus. “Kamu tega meninggalkan ayah & anak2 terutama Falizaa yang masih kecil?”, “Kenapa ngga tunggu ayah aja agar kita bisa berangkat bersama?”, “Apa kmu yakin ga tertimpa masalah disana ?” dan berbagai macam alibi yang muncul dikepalaku agar dia mengagalkan niatnya. Namun kata itu tak terucap, aku hanya bisa bersikap cuek dan dingin dengan sms / telp darinya. Inilah yang biasanya kulakukan jika aku marah, karena aku bukan tipe orang yang bisa marah dengan meluap-luap.

Ternyata Istriku membaca gelagatku ini, ditambah dengan statusku di FB “Masih blum plong, (masih blum ikhlas kayanya)”. Ketika hape kubuka ada sms dari Istriku “Ayah marah sama aku?, ayh ga ikhlas ya aku brangkat, klo ayh ga ikhlas aku ga papa ko ga jadi brgkt”. Aku replly, “Ga ada yg salah ko dari kmu & ga mungkin ayh halangin kmu brangkt klo itu udah jalannya” walaupun dada mash berontak.
Malam kembali menjelang, kelopak mataku terpejam, namun pikiranku melayang kemana-mana. Hatiku ku masih berteriak, perang antara hati dan ego semakin memuncak. Bisikan syaitan pun menghembus membantu sang ego yang melonjak-lonjak. Sementara hati bertahan pada keyakinannya “manusia tak mungkin merubah ketentuanNya.” pukul 3 dini hari aku terbangun, kukerjakan sholat malam agar hatiku tak semakin gundah. Alhamdullilah malam itu pun diterangi cahaya Ilahi. Aku semakin mantap untuk melepas maya. Kukirim sms pagi itu juga, yang isinya menegaskan izinku. Kuikhlaskan istriku berangkat ke tanah suci sebelumku, hatiku kini lepas tak berbeban, kupasrahkan keputusan ini kepada Ilahi.

Hari pun berlanjut, keberangkatan Maya ke tanah suci tinggal menunggu waktu, 3 minggu lagi. Terpikir untuk turut serta beribadah Umroh bersama istri, namun kembali lagi masalah dana yang menjadi ganjalan. Memang Ibu juga menawariku untuk ikut berangkat dan secara tidak langsung juga menawari membiayainya. Namun aku enggan membebani ongkos umroh ini kepada Ibuku, cukup banyak sudah jasa beliau untukku masakah aku harus menerima pemberian untuk ongkos ini. Kulirik tabunganku, tak mungkin rasanya jumlah tabungan ini untuk biaya umroh

Ikhlas Membawa Berkah

Saat ini aku sedang duduk di pesawat Saudi Airlines SV821 dari Jakarta menuju Madinah, Subhanallah!!!. InsyAllah aku akan melaksanakan ibadah umroh, sebuah kenyataan yang terasa ajaib, padahal 3 minggu yang lalu tak terpikirkan aku bisa berangkat ke tanah suci.
Proses ini terasa begitu cepat dan bagai suatu yang serba kebetulan, walaupun aku yakin bahwa ini telah direncankaNya. Teringat skitar 2 bulan yang lalu aku tiba2 terisak saat tayangan tv menampilkan Kabah, aku sendri tak mengerti kenapa. Kejadian terisak tidak hanya terjdi 1 x saja, namun hal ini berulang ketika mbaca kisah2 org yg sedang berhaji. Membaca kata “Miqat” saja aku mewek tak menentu, aplagi saat membaca kata “Multazam”, yg pd saat itu jujur aku belum tahu artinya. Pada saat itu aku hanya bepikir dan berdoa “Ya Allah jika ini undanganMu mudahkanlah aku utk ke rumahMu. Aku merasa tak pantas atas undangan ini, aku merasa hina dihadpanMu tak ada rasanya yg pantas kepsembahkan kepadaMu, sedikit sekali rasanya usahaku utk pergi ke Tanah Suci. Tapi klo ini kehendakMu sungguh aku tak kuasa menolak.
Dimulai dari hal itu aku merasa bahwa Allah telah mengundanganku. Di sisi lain saat itu istriku juga akan beribadah Umroh meggantikan ibunya yg berhalangan.
H -3 minggu sebelum kerberangkatan, aku diminta menghadap Boss tempatku bekerja, tak dikira sang Boss memberikan info adanya bonus yang akan diberikan waktu dekat ini, dan ia sedikit memberikan bocoran angka yang akan kuperoleh X rupiah, Alhamdulillah kontan aku menyebutkan kalimat hamdalah. Lagsung teringat dengan doaku tadi malam, aku kmbli menerka, inikah jawaban atas doaku. Jumlah tersebut hanya kurang Rp. 500 rb untuk biaya ibadah Umroh, dan kekurangan itupun sebetulnya juga akan tertutupi karena ada yg berjanji untuk membayarkan hutang kepadaku sebesar Rp. 500 rb. Aku semakin yakin bahwa Allah telah mengundangku agar aku mengunjungi Baitullah. Pada saat juga itu kuniatkan jika memang jumlah bonus yang diberikan sejumlah tersebut InsyaAllah aku akan berangkat Umroh.
Namun aku tak mau mendahului, karena uang belum ditangan, sesuatu bisa saja terjadi, bisa saja perusahan membatalkan niatnya membagi bonus, kutahan niatku ini dalam hati. Hari pembagian tak kunjung tiba, rencana akan dibagikan pada hari Selasa molor hinga Jumat. Disinilah aku kembali diuji kesabaran, aku sedikit khawtir jika pengurusan dokmen tidak dapat mengejar jadwal waktu berangkat Umroh. Tapi kembali kupasrahkan, jika ini kehendakNya, aku percaya semua dilancarkan.
Akhirnya waktu pembagian bonus tiba, sedikit terkejut jumlah yg disampaikan, ternyata jumlahnya cukup utk membiayai Umroh dan sekaligus membuat Pasport, bahkan sedikit oleh2.
Segera saja aku tanyakan istriku apakah masih mungkin aku berangkat Umroh padahal waktu hanya tinggal 2 minggu lagi. Kembali aku harus mengikhlaskan ini dan ternyata jawabannya masih mungkin. Segera setelah itu aku mulai mengurus segala urusan yang berkaitan denga Umroh, baik itu paspor maupun hal-hal lainnya yang harus dilengkapi. Lagi-lagi aku harus bersyukur proses tersebut cukup lancar2 saja dan semua bisa rampung .
Sekitar 4 jam lagi pesawat yg kutumpangi mendarat di bandar udara kota Madinah, kota Rossullah, Nabi Muhammad junjunganku. Salam dan shalawt kupanjatkan semoga Beliau tetap menjadi mahlukNya yg paling mulia dan semga beliau berkenan memberikan syafaat kepada kami umatnya

One thought on “Kun Fa Ya Kun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s