Pelajaran Hidup dari Sang Sobat


Sudah cukup lama rentang waktu pertemuan antara saya dengan sang sobat satu ini. Terhitung 11 tahun kita tidak bersua, setelah selama 5 tahun bergelut bersama menggapai gelar sarjana di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bulan kemaren dia muncul di hadapan saya, setelah sebelumnya sempet komunikasi lewat FB maupun telepon.

Lepas dari merampungkan kuliah, kami teman2 seangkatan mencar kemana2, ada yang ke Jakarta, ada yang ngendon di Yogya, maupun balik kandang ke kampung halaman masing2. Rata2 bertujuan untuk cari kerja, maklumlah pada saat itu paradigma kita terpatok pada paradigma lama : “setelah seelesai kuliah langsung cari kerja”.  Ada juga sebagian yang beruntung bisa sekolah lagi nerusin S2 dan sebagian lagi sudah tinggal masuk ke bisnis keluarga. Saya sendiri termasuk ke golongan pertama, langsung pasang target untuk ngelamar di perusahaan2 nasional. Syukur alhamdulillah saya sedikit beruntung saya diterima di sebuah Pabrikan elektronik asal korea di kawasan Bekasi.

Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda, walaupun kami dari satu perguruan tinggi, namun ngga semuanya bernasib sama. Beto, sobat saya ini cukup lama berjuang untuk mendapatkan pekerjaan.  Alhasil dia tidak terlalu beruntung mendapatkan satupun pekerjaan yang diimpikannya. Diperparah dengan kondisi Indonesia yang sedang mengalami krisis multi dimensi (tahun 1997-1998), ia seakan kehilangan harapan. Akhirnya Ia beradu untung untuk memulai usaha sebagai entrepreneur dengan mendirikan Warnet di Yogya.

Pelan-pelan ia membesarkan warnetnya, singkat cerita Warnet ini semakin berkembang ia pun dapat menikmati jerih payah hasil usahanya. Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, karena kondisi dan situasi akhirnya ia menjual usaha warnetnya. Hasil penjualan warnet ia bayarkan untuk melunasi hutang-hutangnya. Jalan berliku ternyata masih harus ditempuh Beto, gempa mengguncang Jogya, rumah sang orang tua runtuh, kondisi Jogya saat itu jelas kurang mendukung seorang Beto. Belum lagi kondisi istri yang sedang hamil tua melengkapi cobaan yang diterimanya. Bersyukur ia masih memmiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Untuk sementara ia dan keluarga mengungsi ke rumah Sang mertua di Kalimantan, hal ini juga untuk mengantisipasi kelahiran sang Jabang Bayi. Alhamdulillah, sang Istri melahirkan dengan lancar, Ibu dan anak dalam kondisi sehat wal’afiat.

Selesai persoalaan yang satu, masih banyak PR yang harus dikerjakannya, pertama dia harus pulang ke Yogya untuk membantu sang orang tua yang mengalamai musibah. Rumah orang tua yang hancur pastinya harus segera diperbaiki, sayang dana di kantong semakin menipis. Di sisi lain juga ia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, apalagi untuk biaya sang jabang bayi yang jelas membutuhkan biaya tidak sedikit. Harta yang ia punya saat ini hanyalah sebuah mobil pick up dan rumah tinggalnya (syukur tidak ikut hancur kena gempa).

Keajaiban dimulai “Setelah Musibah, pasti ada kemudahan”

Jalan itu muncul, ada 2 bidang tanah sang orang tua yang sebelum bencana gempa ditawarkan untuk dijual, pada saat itu sulit sekali terjual. Ajaibnya pasca gempa, tanah tersebut bisa cepat terjual dengan harga yang cukup memuaskan, ini keajaiban pertama. Untuk menafkahi keluarganya, ia mulai berusaha untuk menyewakan kendaraan pick up yang ia supiri sendiri. Pelanggannya biasanya mahasiswa yang akan pindah kost ataupun orang-orang yang memerlukan angkutan barang dari satu tempat ke tempat lain. Walaupun tidak banyak, paling tidak ia bisa menafkahi keluarganya.
Keajaiban kedua mulai muncul, seorang rekan dari  swiss yang pernah berhubungan denganya menghubunginya, bermaksud meminta bantuan untuk menyalurkan bantuan terhadap korban bencana. Sang rekan ini membutuhkan kendaraan untuk operasional dalam menyalurkan bantuan, akhirnya kendaraan itu tersedia dengan bantuan Beto. sang rekan pun bersama Beto berkeliling Jogya untuk menyalurkan bantuan. Selesai membagikan bantuan, sang kawanpun hendak pulang kembali ke negerinya.”Lantas bagaimana dengan mobil ini? Dijual lagi atau gimana?”  tanya Beto.”Mobil ini biar untukmu saja, kamu pasti membutuhkannya” jawab sang rekan. Subhanaloh, kembali Beto dikejutkan dengan limpahan karuniaNYa.

Tidak lama berselang, keajaiban ketiga pun muncul. Suatu waktu sebelum gempa, seto pernah membantu seorang Bule asal Belanda yang menetap di Yogya untuk mendokumentasikan koleksi lukisannya. Kebetulan sekali si Beto ini memeliki keahlian fotografi. Malangnya Bule terkena musibah pada saat gempa, ia salah satu korban meninggal pada saat Gempa. Hasil fotografi Beto akhirnya hanya tersimpan dalam komputernya. Pasca gempa, Beto dihubungi asisten Sang Kolektor ini, ia diminta untuk membantu mengidentifikasi Koleksi lukisan sang Kolektor. Rezeki ngga kemana, atas bantuannya itu Beto memperoleh imbalan berupa beberapa lukisan yang ternyata merupakan koleksi2 yang cukup mahal. Beberapa lukisan itu akhirnya ia jual, dan hasilnya ia bayarkan untuk melunasi hutang2nya. Plong rasanya, hutang yang selama ini membebaninya bisa lunas.
Lifes goes on, hidupnya pun berlanjut, kali ini ia dihadapkan kenyataan lain, pekerjaan masih belum berpihak padanya. Ia kembali menyewakan mobil, dengan modal pemberian mobil dari sang teman swiss ia menyewakan kendaraan tersebut  dengan menyopiri sendiri. Terkadang muncul rasa malu, mengingat ia merasa bahwa dirinya seorang Sarjana S1, apalagi ketika si penyewa adalah teman semasa kuliah ataupun sekolah.

Namun dengan kesabarannya ia terus berusaha, pelan-pelan keajaiban mendekatinya. Dengan latar belakang sarjana dan kemampuan bahasa inggris yang mumpuni disertai pengetahuan tentang seni, ia mulai banyak dihubungi oleh kolektor-kolektor ataupun pemburu lukisan. Hal ini menjadi point of start dari suksesnya, apalagi beberapa bulan kemudian booming seni lukis muncul, dimana pada saat itu banyak sekali pemburu lukisan yang mencari lukisan2 dari pelukis muda berbakat untuk diborong ke mancanegara. Disinilah ia akhirnya menemukan kariernya, apalagi dengan jiwa seninya dia sangat mudah masuk untuk menggaet para pelukis baru tersebut.

Karier itu juga yang bisa membawanya terbang menuju eropa, hongkong dan belahan negara lainnya. Dan hingga sekarang dia semakin sukses dengan berbagai kegiatan Art Management – nya. Menjadi talent manager bagi pelukis muda, event organizer untuk pameran seni, creator buku pelukis, dan berbagai macam pekerjaan yang berkaitan seni, khususnya seni lukis.

Suatu perjalanan hidup yang menarik dan sangat inspiratif bagi saya. Pelajaran hidup yang didapat dari kisah ini adalah:

1. Selalu ada keajaiban disaat kita membutuhkannya

2. Ketekunan dan konsistensi pada saatnya akan membuahkan hasil

3. Hargailah pekerjaan anda

* Kisah ini adalah kisah nyata, ditulis berdasarkan penuturan sobat saya : Satriagama Rakantaseta

Picture taken from deshow.net

6 thoughts on “Pelajaran Hidup dari Sang Sobat

  1. saya juga mengenal beliau..
    orang yang sangat halus,jujur,smart dan suka bercanda.padahal dulu kesan pertama yg kudapat sangat berbeda jauh karena kulitnya yg gelap dan mahal senyum..
    beliau lah yg terus menyemangatiku supaya jangan pernah menyerah dan sabar…

      1. saya kenal dgn mas seto juli lalu,di sebuah pameran seni yg dipimpinnya. belum kenal lama dan tidak terlalu mengenalnya scr personal. tapi memang pernah suatu kali di akhir pameran,kami ngobrol seperti teman yg sudah lama ga ketemu,padahal kita belum kenal..dan itu membuat teman2 yg lain terheran2,penasaran dgn apa yg kami obrolkan.. Beliau menceritakan kisahnya,tapi tidak se detail yg pernah diceritakan ke panjenengan.. Dan ya…pengalamannya benar2 menginspirasiku. 🙂

      2. Salam kenal Diajeng, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari cerita itu dan berbagi pengalaman.
        Kalo boleh tau, bisa nemu tulisan ini gimana ceritanya ?

      3. salam kenal juga mas.. Iya.. banyak hikmah yg bisa diambil.. tidak ada suatu pun dari ulat yg memberi tanda bahwa dia akan jd kupu2 yg cantik.. seperti juga permasalahan hidup,pasti ada senang dibalik susah… Saya iseng2 browsing dan dapat tulisan ini..🙂

  2. saya sangat mengenal beliau.. sejak kelas 1 smp di Bandung (beliau duduk persis di depan bangku meja saya) … satu sma pula.
    satu kata buat beliau : pria tangguh.. (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s