Laskar Pelangi (the movie), Kekuatan Mimpi


Nonton film laskar pelangiHari-hari terakhir sebelum lebaran kami sekeluarga nyempetin nonton film Laskar Pelangi, itung-itung sekalian ngabuburit. Dateng 1 jam sebelum jam tayang, ternyata tempat duduk hanya tinggal 2 baris, baris pertama didepan layar n di baris kedua depan layar. Terpaksa deh kita duduk di kursi baris kedua karena itu pilihan terbaik dibanding kita nonto persis depan layar.

Penasaran juga rasanya nonton film Laskar Pelangi yang novelnya udah habis dibaca beberapa bulan yang lalu. Film Laskar Pelangi yang disutradai Riri Reza, dibuka dengan scene yang menceritakan Pulau Belitong tahun 1970 an. Pulau Belitong yang pada masa itu merupakan penghasil timah terbesar nasional ternyata menyisakan banyak cerita suka maupun duka terutama bagi penduduk aslinya. Sangat miris rasanya melihat penduduk asli Pulau tersebut yang mayoritas menjadi buruh PN Timah, sementara hasil timah yang diperoleh dari pulaunya dinikmati oleh para penguasa Jakarta dan cukong-cukong. Namun yang bikin eye-catching  adalah adanya foto dokumentasi yang menampilkan buaya dengan ukuran raksasa, bener-bener ukuran raksasa seperti buaya di Film “Lake Placid”.

Sejalan dengan novelnya film Laskar Pelangi juga memberikan misi yang kental dengan perjuangan pendidikan. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun sama dengan novelnya, selain Ikal, Lintang, Mahar serta Ibu Muslimah sebagai tokoh central juga ditampilkan murid SD Muhamdyah Belitong dan seluruh tokoh yang diceritakan dalam novel. Hanya saja saya tidak melihat sosok Ibu yang diceritakan selalu menemani anaknya didalam sekolah seperti pada novelnya.

Namun sebuah film memang tidak akan persis sama dengan isi cerita dalam novel, hal ini juga terjadi di beberapa film yang diangkat berdasarkan cerita novel. Sedikit berbeda dengan novelnya film Laskar Pelangi lebih banyak menyoroti sosok Ibu Muslimah sebagai pejuang pendidikan, selain Ikal tentunya sebagai tokoh sentral. Sosok ibu guru ini diperankan oleh Cut Mini dengan apik, walaupun raut muka “Metropolitan” Cut Mini tidak bisa tertutupi dengan make up yang dipoleskan di wajahnya, sehingga setelah melihat sosok kampung anak-anak laskar pelangi akan terasa sedikit ganjil melihat sang Ibu guru. Kecuali itu Cut Mini mampu memerankan karekter seorang Bu Muslimah dengan baik.

Dalam film ini juga karekter teman-teman sekelas selain Lintang dan Mahar, tidak terlalu digali lebih dalam, malahan kita akan kesulitan mengenali satu persatu nama anak2 tersebut. Seingat saya hanya ada 5 nama yang sering muncul, Ikal, Lintang, Mahar, Samson, Sahara, Harun dan Flo sisanya hampir tidak disebutkan namanya. Gantinya peran orang dewas seperti Pa Harfan, Bakri, Orang tua Ikal dan Lintang ditampilkan lebih besar porsinya dibanding pada novel.

Jalan ceritanya sendiri tersusun rapi, dimulai pada saat hari pertama sekolah, hari-hari belajar, suka duka bersekolah di Sekolah kampung dan bagaimana seorang Bu Muslimah berjuang untuk mempertahankan sekolah tersebut. Kembali lagi sosok Bu Muslimah disorot, terutama pada saat Pa Harfan Meninggal (ini tidaka ada di novel), bersama anak didiknya dia berjuang menyelesaikan sekolah anak-anak tersebut hingga kelas 6. Hal ini disebabkan adanya riset yang dilakukan terlebih dahulu oleh tim Mira Lesmana sebagai produser. Porsi berlebih juga diberikan Riri Riza sang sutradara terhadap cerita romantisme ala anak ingusan, yaitu tatkala Ikal ‘Fallen in Love’ A’ling. Untuk yang ini menurut saya terlalu berlebihan, sehingga film kurang memunculkan cerita lain dalam novel.

Meski begitu, menikmati film Laskar Pelangi sungguh begitu mengasyikan, bagi yang pernah membaca novelnya Film Laskar Pelangi bagai melengkapi kisah hidup Laskar Pelangi dari sisi lain. Sedangkan bagi yang belum membacanya, kita akan melihat perjuangan dan suka duka Murid dan Guru bagi pendidikan.

3 thoughts on “Laskar Pelangi (the movie), Kekuatan Mimpi

  1. Buku dan Film Laskar Pelangi menghentak khalayak, menggugah para guru, menginspirasi jutaan pembaca, menghardik dunia pendidikan di negeri ini. Asrori S. Karni menyebutnya The Phenomenon.

    Buku Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis barangkali dapat melengkapi gambaran tentang bagaimana anak bila diberikan perlakuan yang tepat (memberikan hati seperti dilakukan bu Muslimah) dan kesempatan untuk berpartisipasi maka anak-anak dapat menjadi subyek/pelaku perubahan sosial yang luar biasa.

    Salam hangat dan silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-online-gratis-anak-anak-membangun.html

  2. satu terobosan di dunia sastra dan film Indonesia yang dahsyat, mengingat saat ini novel di Indonesia lebih banyak mengenai dunia romance yang dikasih bumbu relegi. Lebih parah dari itu dunia film Indonesia melulu film horor & (lagi-lagi) romance yang di make up dengan religi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s