Outsourcing, Pro dan Kontra


Beberapa tulisan terakhir ini, yaitu mengenai Recruitment Process dan Job Interview Tips, lebih banyak mengenai dunia kerja dan tenaga kerja. Tulisan-tulisan tersebut dan tulisan ini memang saya simpan dalam blog lain dan mengingat blog tersebut sudah mati suri (tidak terupdate), jadi saya pindahkan tulisan-tulisan di blog tsb ke blog ini.

Fenoma Outsourcing di Indonesia semakin menyeruak di kalangan dunia HR, bagi kalangan dunia usaha outsourcing merupakan suatu salah satu solusi untuk menjalankan roda usaha, sebaliknya bagi pekerja hal ini merupakan momok yang harus disingkirkan. Peringatan hari buruh tanggal 1 Mei 2008 merupakan suatu indikasi penolakan buruh terhadap sistem outsourcing. Lihatlah betapa kuat buruh meneriakan “HAPUSKAN SISTEM KERJA OUTSOURCING ” pada demo tersebut.

Praktek-praktek outsourcing sendiri sebtulnya sudah banyak dilakukan oleh perusahaan – perusahaan baik di Indonesia. Bentuk outsourcing memang bermutasi ke berbagai bentuk, bentuk awal sistem outsourcing sendiri adalah suatu pekerjaan pemborongan, namun saat ini sudah berkembang menjadi sistem peminjaman pegawai / tenaga kerja. Pada prinsipnya sistem outsourcing yang ditentang oleh buruh adalah sistem outsourcing tenaga kerja bukan sistem outsourcing pemborongan.

Sebetulnya tuntutan buruh untuk menghapuskan Sistem Kerja Outsourcing adalah disebabkan beberapa hal :

  1. Tidak adanya kepastian status ketenagakerjaan, umumya karyawan outsourcing berstatus kontrak dan sangat jarang perusahaan outsourcing mengangkat sebagai karyawan tetap
  2. Perbedaan perlakuan Compensation & Benefit antara karyawan internal dengan karyawan outsourcing, seringkali 2 karyawan yang memiliki jabatan sama mendapatkan fasiltas dan benefit yang berbeda.
  3. Career Path, jenjang karir di outsourcing seringkali kurang terencana dan terarah, seorang petugas keamanan biasanya akan tetap menjadi petugas keamanan seumur masa kerjanya.
  4. Perusahaan pengguna jasa sangat mungkin memutuskan hubungan kerjasama dengan outsourcing provider dan ini mengakibatkan ketidakjelasan status kerja buruh.

Tujuan sistem kerja outsourcing sejatinya adalah memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk :

  1. Membuat produk baru, proyek baru atau perusahaan baru, ini memungkinkan perusahaan dapat lebih efisien pada saat start up bisnis.
  2. Untuk fokus pada inti usahanya sehingga perusahaan tidak lagi direpotkan dengan urusan diluar core businessnya.

Kedua tujuan tersebut memang seolah-olah sangat memihak kepentingan perusahaan tanpa melihat kepentingan buruh, namun jika ditelaah lebih jauh benefit bagi tenaga kerja adalah semakin banyak terbukanya kesempatan kerja dalam dunia usaha. Namun tujuan yang mulia ini seringkali dinodai oleh pelaku-pelaku yang sering mengambil benefit berlebih untuk kepentingan pribadi atau golongan. Seringkali praktek outsourcing dilegalkan dengan berbagai bentuk tanpa memperdulikan kepentingan buruh.

4 thoughts on “Outsourcing, Pro dan Kontra

  1. “Mas Joko… menurut saya bukan sistem outsourcing yang salah namun posisi tawar tenaga kerja kita yang masih lemah, jadi mo pake sistem apapun selama posisi tawar masih lemah yah tidak banyak perubahan”

  2. Absolutely agree with mas kus…. kondisi buruh kita yang tidak bisa nego dan berpendidikan rendah memang “nelongso”, lantas siapa yang harus membantu? apalagi supply and demand tenaga kerja dan pekerjaan di republik mimpi ini masih njomplang…. opo tumon to mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s