Don’t be arogan


Ternyata organ manusia yang paling berbahaya bukan tangan yang bisa jotos orang lain atau kaki yang bisa nendang pantat orang seenaknya, ternyata hati dan akal (pikiran) is The Most Dangerous Organ. Tangan dan kaki kita ngga mungkin akan bergerak tanpa ada perintah dari dari akal dan hatilah yang memberikan arah bagi akal kita. Sayangnya banyak yang tidak menyadari ini, bayangkan hati dan akal seorang Hitler, Idi Amin, Polpot, Napoleon, Bush, Sadam Husein dan banyak pemimpin dunia lainnya bisa mempengaruhi kondisi negara bahkan dunia. Seorang Hitler bisa menggerakan ribuan tentara sehingga bisa menyengsarakan masyarakat dunia selama hampir 5 tahun dan lebih bahkan.

Bagi kita sendiri, hati dan akal bagi pisau yang memiliki 2 sisi, bahkan hati dan akal lebih tajam dari pedang sekalipun. Saya sendiri punya pengalaman pribadi yang bisa menjadi pelajaran buat saya pribadi. Ceritanya adalah pada saat saya akan berangkat ke luar kota. Sebetulnya berpergian ke luar kota sudah cukup sering saya lakukan, biasanya memang tugas saya menuntut agak sering traveling terutama ke kota-kota di Jawa dan Sumatera. Karena sudah cukup terbiasa saya sedikit menggampangkan persiapan untuk berangkat / terbang dengan pesawat. Pesawat take off jam 07.00 WIB, itu artinya saya harus sampai paling lambat di Bandara pukul 6 atau selambat-lambatnya 6.30, artinya lagi saya harus berangkat dari rumah tidak boleh lebih dari pukul 5.00, tarik mundur lagi saya harus bangun Jam 4.30. Time schedule sudah ditetapkan tinggal pelaksanaan.

Malamnya karena saya sudah biasa berpergian dan terbang ke luar kota, saya pikir besok sudah beres dan semua akan berjalan lancar. Timbul kesombongan saya, “ah tidak akan ada hambatan berarti besok, gw tinggal angkat tas, naik taksi, terbang”. Manusia bisa bererencana, Allah lah yang menentukan semuanya. Keesokan harinya, bangun tidur memang jam 4.30, brangkat pun jam 5 lebihan dikit tapi entah kenapa jalan ke Bandara ko jadi terasa lama walaupun ngga terlalu macet karena masih pagi hari. Di jalan beberapkali si Boss telpon, menanyakan posisi, masalahnya doi sudah sampe duluan, wah gawat nih.

Singkat cerita, saya sampae di Bandara jam 6.30 that very close dan para bos ngga bisa check in karena nunggu tiket yang saya bawa. So si bos langsung pasang muka angker, anak buah ko dateng paling buncit katanya. Ketidakberesan juga terjadi pada PDA – Phone saya, mini komputer tersebut mendadak hang, setengah mati saya utak-utik ngga bisa juga, sampai batere di cabut & dipasang lagi tetep ngga bisa juga, alhasil saya ngga bisa komunikasi.

Sampai di kota tujuan giliran perut problem, waduh ko rasanya ada yang mo keluar. Panas dingin sudah badan menahan perut yang ingin berontak, untungnya tak lama kemudian kita mampir di sebuar restoran. Di Restoran itulah saya bongkar muatan.

Disela-sela saya mengalami itu semua saya berpikir, ini pasti karena pikiran saya tadi malam yang terlalu menggampangkan dan terlalu arogan dengan berpikir bahwa ngga akan terjadi masalah yang berarti, ternyata saya salah. Kesialan beruntun menimpa saya, tapi untung saja saya cepet istighfar karena kesombongan saya, so perjalanan jadi relatif lancar walaupun ada gangguan-gangguan kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s