Kampung Daun


Rabu, 21 May 2008,

Kebetulan siang itu ada jadwal meeting di Bandung, saya bersama beberapa rekan kerja setelah selesai meeting langsung meluncur ke arah Lembang nyoba makan di Kampung Daun. Sebetulnya sudah agak terlambat untuk waktu makan siangnya, karena waktu meeting ternyata cukup panjang dan selesai sekitar jam 13.00. Dengan semangat perut yang keroncongan dan hampir masuk angin, bergeraklah kita ke menuju sasaran.

Jarak dari kota Bandung ke lokasi kira-kira 8 km atau sekitar 1/2 jam perjalanan, kalau untuk ukuran Jakarta sih ngga terlalu jauh. Kampung Daun berada di sebuah lembah kecil, kawasan obyek wisata Cihideung, di belahan Utara Kota Bandung. Lokasinya yang terletak 4,7 km dari mulut Jalan Sersan Bajuri, berada di dekat pertigaan Terminal Ledeng. Arah jalan menuju Lembang.

Untuk mecapai ke lokasi kita melewati jalan yang sedikit berkelok dan menanjak, banyak juga restoran sejenis di sepanjang jalan menuju Kampung Daun, seperti Sapulidi, Rumah Kayu, dan The Peak, yang terakhir disebut terletak setelah Kampung Daun.

Memasuki komplek rumah makan ini, kita akan merasakan suasana di pedesaan, terdapat banyak saung untuk tempat makan. Disini Anda akan menemukan berbagai karakteristik dan keunikan wilayah pedesaan yang masih bersifat tradisional tapi elegan. Di rumah makan ini Anda dapat menemui pedagang keliling yang menjual dodol lipet, gulali, dan harum manis yang duduk berjejer di tepi jalan setapak Kampung Daun. Tak ketinggalan hiburan asli setempat juga bisa Anda nikmati disini. Pengamen yang bermain harpa dan kecapi dengan jari-jarinya yang lentur, berkeliling dari saung ke saung. Benar-benar serasa di kampung, bukan?

Benar-benar suasana pedesaan dengan udara yang masih sejuk dan ditimpali gemericik air terjun. Saung yang disediakan pun sangatlah nyaman, disitu kita bisa rebahan atau selonjor. Sambil menunggu pesanan makanan datang kita bisa jalan-jalan menikmati hijaunya alam atau yang senang berbelanja bisa melihat-lihat toko-toko busana dan souvenir. Suasana alam pedesaan dan lingkungan yang hijau memang menjadi konsep yang diandalkan dari rumah makan ini.

Makanan yang ditawarkan tersedia berbagai macam dari nasi bakar sampai dengan sop buntut, ciri khas masakan sundalah. Kebetulan saya pesan nasi bakar dan sup gurame plus milkshake strawberry, awalnya saya pikir porsi yang disajikan ngga terlalu banyak tapi ternyata bisa untuk 3-4 orang bow. Harga makanan sendiri tidak terlalu mahal walaupun ngga terhitung murah juga. Contohnya saja sop buntut bakar dihargai Rp. 45.000,- , Sup Gurame Rp. 35.000,- untuk minuman segelas milkshake dihargai Rp. 20.000,-. Untuk yang tidak kuat banyak makan saya sarankan supaya pesen cukup satu macem makanan saja, karena porsinya lumayan banyak.

Kalau ditilik dari rasa makanan, sebetulnya makanan disana tidak terlalu istimewa (itu menurut lidah saya), namun hal ini tertolong dengan suasana yang pedesaan dan bener-bener asri. Jadi jangan terlalu banyak berharap dengan cita rasa makanan. Tapi melihat pemandangan pohon-pohon yang hijau dan tebing bebatuan yang ber-air terjun sambil menikmatinya di saung merupakan pengalaman yang mengasyikan. Rasanya tidak rugi kita membayar untuk makan di restoran tersebut.

3 thoughts on “Kampung Daun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s